proposal penelitian kuantitatif pengaruh implementasi kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Kualitas SDM bergantung pada kualitas pendidikan dan peran pendidikan untuk  menciptakan masyarakat  yang  cerdas, damai, terbuka dan demokratis. Oleh sebab itu, komponen dari sistem pendidikan nasional harus senantiasa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi, baik pada tingkat lokal, nasional maupun global. Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum.
Kurikulum di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan secara berturut-turut yaitu pada tahun 1947, tahun 1964, tahun 1968, tahun 1973, tahun 1975, tahun 1984, tahun 1994, tahun 1997 (revisi Kurikulum 1994), dan tahun 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), serta kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Dalam perjalanannya, pemerintah sebagai regulator melihat perlu adanya pengembangan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP tahun 2006) yang sudah berlangsung selama + 6 tahun tersebut, dalam rangka memajukan mutu dan kualitas pendidikan nasional. Oleh sebab itu, akhirnya lahir kurikulum baru di tahun 2013 yang merupakan kurikulum berbasis kompetensi dan karakter. Lahirnya kebijakan baru ini, tentunya  tetap harus disikapi dengan positif jangan sampai menjadi beban guru dan satuan pendidikan yang berkecimpung dan menaruh perhatian terhadap pendidikan.
Hadirnya Kurikulum 2013 sebagai kurikulum baru di dalam dunia pendidikan nasional diharapkan dapat lebih menyempurnakan kurikulum sebelumnya  yaitu  KTSP  (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Penyempurnaan ini, dilaksanakan guna   meningkatkan sistem pendidikan nasional agar selalu relevan dan kompetitif. Selain itu, juga diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa khususnya dalam bidang pendidikan sehingga dalam hal ini, sekolah harus berusaha mengupayakan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013, melalui berbagai program dan pengembangan yang  dilakukan.  Pengembangan fasilitas  dan penguatan  manajemen sekolah perlu dilakukan sehingga pelaksanaan kurikulum dapat berjalan dengan baik.Pemerintah juga perlu melakukan strategi penerapan Kurikulum dengan sosialisasi dan pelatihan yang memadahi agar Kurikulum 2013, tidak hanya menjadi sebuah program yang sia-sia.
Dalam Kurikulum 2013, proses pembelajaran merupakan salah satu elemen dari standar proses yang mengalami perubahan guna pencapaian keberhasilan pembelajaran dan pembentukan kompetensi siswa. Pemerintah dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 65 Tahun 2013 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah menjelaskan bahwa dalam mengimplementasikan proses pembelajaran di kurikulum 2013 pada satuan pendidikan harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,  memotivasi siswa  untuk  berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian  sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Sholeh  Hidayat  (2013: 128)  merumuskan  beberapa  perubahan  yang terjadi  dalam  proses  pembelajaran  dalam  Kurikulum  2013  sebagai  berikut: standar proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta.         Kemudian,  kegiatan  pembelajaran tidak  hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat. Sehingga, guru bukan satu-satunya sumber belajar, serta dalam menerapkan kompetensi sikap guru tidak mengajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan. Oleh karena itu, setiap satuan pendidikan dalam kegiatan proses pembelajarannya diharapkan dapat melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian hasil belajar siswa yang disesuaikan dengan ketetapan dalam Kurikulum 2013, agar dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.
SD Negeri 2 Ranomeeto adalah salah satu sekolah dasar negeri yang melaksanakan Kurikulum 2013 dan merupakan salah satu sekolah percontohan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 di kabupaten konawe selatan pada tahun ajaran 2017/2018 guna meningkatkan prestasi siswanya. Penerapan  Kurikulum  2013  pada  SD Negeri 2 Ranomeeto sudah berjalan selama dua semester. Dalam pra observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, didapatkan hasil bahwa, pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum 2013 dapat dilakukan dengan baik walaupun ada beberapa kendala yang dialami oleh  para guru. Sebagian guru menyebutkan bahwa  Kurikulum  2013 mudah untuk diterapkan, lebih baik dan efektif untuk digunakan, namun ada juga beberapa guru yang menyebutkan bahwa mereka masih kurang memahami dalam menerapkan kurikulum 2013 sehingga penerapan dalam kelas masih kurang maksimal. Sosialisasi dan pelatihan yang belum maksimal membuat para guru hanya melaksanakan Kurikulum 2013 menurut apa yang mereka ketahui saja. Jadi, dapat diketahui bahwa pelaksanaan Kurikulum 2013 belum optimal, karena guru sebagai pelaku kebijakan belum sepenuhnya memahami kurikulum 2013 secara maksimal
Atas dasar kenyataan tersebut, hal inilah yang mendorong penulis untuk mengkaji dan meneliti, sehingga penulis mengangkat tema: “Pengaruh Implementasi kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran di SD 2 Ranomeeto”
B.      Batasan Masalah
Pada penelitian ini, pembatasan masalah dimaksudkan untuk lebih memfokuskan permasalahan yang  akan dibahas untuk mendapatkan tingkat kedalaman penelitian secara maksimal sehingga pembahasannya dapat terarah dan tepat mengenai sasaran. Selain itu, peneliti melakukan pembatasan masalah dalam penelitian ini dikarenakan Kurikulum 2013 memiliki permasalahan yang begitu kompleks sehingga pro kontra indikasi keberhasilannya sangat menarik untuk diteliti.
Dalam penelitian ini, peneliti hanya akan mengungkap implementasi Kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran di SD Negeri 2 Ranomeeto yang meliputi:.
1.        Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam implementai kurikulum 2013
2.        Penilaian hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru dalam implementasi kurikulum 2013
3.        Hambatan  yang  terjadi  serta  upaya yang  dilakukan  untuk  mengatasi hambatan dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran di SD Negeri 2 Ranomeeto
C.      Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas maka rumusan masalah yang di ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.        Bagaimanakah implementasi Kurikulum 2013 dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD 2 Ranomeeto?
2.        Apa hamabatan yang di alami saat mengimplementaikan kurikulum 2013 dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD 2 Ranomeeto?
3.        Apa solusi yang diterapkan  dalam mengatasi hambatan yang terjadi saat mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD Negeri 02 Ranomeeto?
4.        Bagaimanakah implementasi Kurikulum 2013 dalam penilaian hasil belajar siswa di SD 2 Ranomeeto?
5.        Apa hambatan yang di alami saat mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam penilaian hasil belajar siswa di SD Negeri 2 Ranomeeto?
6.        Apa solusi yang di terapkan untuk mengatasi hambatan yang terjadi saat mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam penilaian hasil belajar siswa di SD Negeri 2 Ranomeeto?
D.      Definisi operasional Variabel
Identifikasi variabel dalam penelitian ini merupakan jenis variabel tunggal yaitu Pengaruh implementasi kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran di SD Negeri 2 Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan. Proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang di laksanakan oleh guru  sebagai pendidik dan siswa sebagai anak didik dalam kegiatan pembelajaran yang saling mempengaruhi satu sama lain dalam rangka tercapainya tujuan pembelajaran yang telah di rumuskan melalui perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan penilaian hasil belajar siswa yang disesuaikan dengan ketetapan dalam kurikulum. Dalam hal ini, proses pembelajaran yang akan di teliti oleh peneliti adalah pelaksanaan pembelajaran yang berbasis kurikulum 2013 yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup, serta hambatan yang dialami oleh pendidik dalam rangka mengimplementasikan kurikulum 2013 kedalam proses pembelajaran di SD Negeri 2 Ranomeeto di kabupaten konawe selatan.
E.       Tujuan penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan di atas maka penelitian ini berujuan untuk:
1. mengetahui implementasi Kurikulum 2013 dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD 2 Ranomeeto.
2.      Mengetahui hambatan yang di alami saat mengimplementaikan kurikulum 2013 dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD 2 Ranomeeto.
3.    Mengetahui solusi yang diterapkan  dalam mengatasi hambatan yang terjadi saat mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD Negeri 02 Ranomeeto.
4.      Mengetahui implementasi Kurikulum 2013 dalam penilaian hasil belajar siswa di SD 2 Ranomeeto.
5.         Mengetahui hambatan yang di alami saat mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam penilaian hasil belajar siswa di SD Negeri 2 Ranomeeto.
6.         Mengetahui solusi yang di terapkan untuk mengatasi hambatan yang terjadi saat mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam penilaian hasil belajar siswa di SD Negeri 2 Ranomeeto.
F.       Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi ilmiah mengenai implementasi kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan hasil penilaian siswa belajar siswa di SD 2 Ranomeeto,sekaligus dapat bermanfaat kepada sekolah dalam hal ini sebagai sebagai bahan evaluasi dalam melaksanakan kurikulum 2013 di sekolah.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.      Kajian Teori
1.    Konsep Dasar Kurikulum 2013
Menurut Sholeh Hidayat (2013: 113), orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Hal ini, juga sejalan dengan amanat UU No. 20 tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan pasal 35:kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,  pengetahuan,  dan keterampilan sesuai dengan  standar  nasional  yang telah disepakati”. Sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu”.
Secara konseptual draft Kurikulum 2013 dicita-citakan untuk mampu melahirkan generasi masa depan yang cerdas komprehensif, yaitu tidak hanya cerdas intelektualnya, tetapi juga cerdas emosi, sosial, dan spiritualnya. Hal ini tampak dengan terdapatnya nilai-nilai karakter yang tercantum di dalam proses pembelajaran.
Oleh karena itu, menurut Sholeh Hidayat (2013:113), Kurikulum 2013  dapat menjadi salah satu solusi menghadapi perubahan zaman yang kelak akan mengutamakan kompetensi yang disinergikan dengan nilai-nilai karakter karena pendekatan dan strategi pembelajaran yang digunakan adalah dengan memberikan  ruang kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengalaman belajar yang diperoleh dari kelas, lingkungan sekolah, dan masyarakat. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat diasumsikan bahwa posisi guru harus disiapkan secara matang, mulai dari penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian, analisis, hingga tindak lanjutnya sehingga implementasi kurikulum dapat berlangsung sebagaimana yang diharapkan.
a.       Pengertian kurikulum 2013
E. Mulyasa (2013: 66) mengemukakan pengertian Kurikulum 2013 yaitu sebagai kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan karakter dan kemampuan melakukan kompetensi tugas-tugas dengan standar performasi  tertentu, sehingga hasilnya  dapat  dirasakan oleh siswa, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Tidak hanya berbasis pada kompetensi, hal penting dalam penerapan Kurikulum 2013 adalah penerapan pendidikan karakter.
Menurut E. Mulyasa (2013:7), pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Dalam penerapan pendidikan karakter tersebut, bukan hanya tanggung jawab dari sekolah semata, tetapi tanggung jawab semua pihak seperti orang tua peserta didik, pemerintah, dan masyarakat.
Hal serupa juga dikemukakan oleh Anang Tjahjono (2013: 1), Kurikulum 2013  merupakan  kurikulum  yang  berbasis  pada  pengembangan  kompetensi     siswa.  Kurikulum  berbasis  kompetensi  (outcomes-based  curriculum)  yaitu pengembangan kurikulum yang diarahkan pada pencapaian kompetensi seperti yang telah dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan.
Dari pengertian tersebut dapat diasumsikan bahwa Kurikulum 2013 merupakan pengembangan kurikulum yang berfokus pada kompetensi dan karakter siswa yang dicapainya melalui pengalaman belajarnya yang telah dirumuskan  dalam  Standar  Kompetensi  Lulusan.  Kurikulum  2013  diarahkan untuk  mengembangkan  pengetahuan,  pemahaman,  kemampuan,  nilai,  sikap, dan minat siswa agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.
b.      Tujuan kurikulum 2013
Tujuan  diselenggarakannya  Kurikulum  2013  adalah  untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga Negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia, seperti tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 70 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan. Memahami tujuan tersebut, melalui pengalaman belajar, keterampilan, dan dasar-dasar pengetahuan yang diberikan, Kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi   dan   karakter   ini   ditujukan   untuk   menciptakan   tamatan   yang kompeten dan cerdas sehingga dapat mengembangkan identitas budaya dan bangsanya   serta   dapat   membangun   integritas   sosial   dalam   mewujudkan karakteristik nasional bangsa.
c.  implementasi kurikulum 2013
Sholeh Hidayat (2013: 158) menjelaskan bahwa implementasi kurikulum adalah bagaimana membelajarkan pesan dalam kurikulum kepada siswa agar dapat menghasilkan lulusan yang memiliki seperangkat kompetensi sesuai dengan karakteristik dan kemampuan siswa masing-masing.
E. Mulyasa (2013: 99) menjelaskan bahwa implementasi kurikulum merupakan aktualisasi kurikulum dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi serta karakter siswa.
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa implementasi kurikulum adalah suatu penerapan ide, konsep, dan kebijakan dari kurikulum dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga siswa menguasai seperangkat kompetensi tertentu.
Implementasi kurikulum akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran yakni bagaimana agar isi kurikulum dapat dikuasai oleh siswa secara tepat dan optimal. Dalam hal ini, tugas guru dalam implementasi kurikulum adalah mengondisikan dan memfasilitasi lingkungan belajar agar dapat memberikan kemudahan   belajar   siswa,   sehingga   siswa   mampu   berinteraksi   dengan lingkungan eksternal dan terjadi perubahan perilaku sesuai dengan yang dikemukakan dalam Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Kaitannya dalam  mengupayakan keberhasilan implementasi  Kurikulum 2013, dalam pembelajaran implementasi Kurikulum 2013 harus mengacu pada Standar  Proses  yang  tertera  dalam  Standar  Nasional  Pendidikan.  Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Standar Proses dikembangkan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
2.  Proses Pembelajaran
a. Pengertian proses pembelajaran
`Menurut Rustaman dalam Sholeh Hidayat (2013: 118), proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi antara guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar.”
Menurut  Chalijah  Hasan  (1994:  107)  bahwa,  proses  pembelajaran adalah  berjalannya  suatu  pengajaran  dengan  suatu  susunan  dari  beberapa bagian dari suatu bahan pengajaran yang merupakan satu kesatuan yang berhubung-hubungan.
Sedangkan menurut Abdul Majid (2005: 4), proses pembelajaran merupakan sebuah proses belajar mengajar, dimana guru dituntut untuk dapat melaksanakan proses pengajaran dengan baik dan mencapai tujuan pengajaran seperti yang telah direncanakan.
Dari beberapa pengertian proses pembelajaran diatas, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik dalam kegiatan pengajaran yang saling mempengaruhi satu sama lain dalam rangka tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
b. Komponen-komponn proses pembelajaran
Berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dari komponen- komponen yang ada di dalamnya, menurut Moedjiono dan Dimyati (1993: 23) komponen-komponen proses pembelajaran adalah peserta didik, guru, tujuan pembelajaran, materi/isi, metode, media, dan evaluasi.
1.      Peserta didik
Menurut  undang-undang  No.  20 tentang  Sistem  Pendidikan  Nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.”
2.      Guru
Pengertian guru menurut Muhammad Ali (2007: 161) adalah seseorang yang merupakan pemegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar. Sedangkan, menurut Mochtar Buchori (1994:4) menyatakan bahwa guru adalah seseorang yang dapat memperbaiki situasi pendidikan yang karenanya sehari- hari bekerja dilapangan. Dari pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa guru adalah seorang manusia yang berkepribadian, yang memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar dan berpartisipasi penuh dalam menyelenggarakan pendidikan.
3.      Tujuan Pembelajaran
Dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 sebagaimana dikemukakan oleh Akhmad Sudrajat (2009) tentang Standar Proses, disebutkan bahwa “tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa
4.      Materi/Isi Pembelajaran
Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh siswa.
5.      Kegiatan Belajar Mengajar
Segala sesuatu yang telah diprogramkan dalam pendidikan akan  dilaksanakan   dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar,  guru  dan  siswa  terlibat  secara  langsung  dalam  sebuah  interaksi dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya.
6.      Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran menurut Oemar Hamalik (2003: 80) “merupakan salah satu cara yang digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Sedangkan menurut  Nana Sudjana  (1996:  76),  “metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan interaksi atau hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran.Berdasarkan  pendapat  tersebut  dapat  dikemukakan  bahwa  metode pembelajaran adalah  strategi  atau  cara  yang  dilakukan  oleh  pendidik  dalam melakukan hubungan atau interaksi dengan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
7.  Media Pembelajaran
Menurut Arief S. Sadiman (2006: 7) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima   sehingga   dapat   merangsang   pikiran,   perasaan,   perhatian,   dan kompetensi serta perhatian siswa sehingga proses belajar dapat terjadi.Sedangkan   menurut   Sudarwan   Danim   (1995:   7)   media   pembelajaran merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik.Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan  seperangkat  alat  bantu  yang  dapat  digunakan  sebagai  sumber belajar oleh guru dalam menyampaikan materi kepada siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga mendorong terjadinya proses belajar mengajar.
8. Sumber Belajar
Menurut Udin Saripuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata sebagaimana yang dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006: 37), yang dimaksud sumber-sumber belajar adalah sesuatu yang dapat dipergunakan untuk belajar seseorang. Sumber belajar dapat meliputi manusia (dalam keluarga, sekolah, dan mayarakat); buku perpustakaan; mass media (majalah, surat kabar, radio, tv, dll); alat pelajaran (peta, kaset, tape, papan tulis, buku pelajaran); museum (tempat penyimpanan benda-bena kuno).
9). Evaluasi
Menurut Nana Sudjana (2009:3) evaluasi   merupakan   proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Evaluasi pembelajaran merupakan penilaian kegiatan dan kemajuan belajar siswa yang dilakukan secara berkala berbentuk ujian, hasil praktik tugas harian, atau pengamatan oleh guru .
B.       Kerangka Berfikir
Kurikulum  2013  merupakan  pengembangan  kurikulum  yang  berfokus pada kompetensi dan karakter siswa yang ditawarkan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 diarahkan untuk mengembangkan  pengetahuan,  pemahaman,  kemampuan,  nilai,  sikap,  dan minat siswa agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab. Dalam implementasi Kurikulum 2013, sekolah merupakan pelaksana terdepan, salah satunya melalui kegiatan pembelajaran pada berbagai mata pelajaran yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.
Keberhasilan proses pembelajaran merupakan salah satu indikator keberhasilan implementasi Kurikulum 2013 berbasis kompetensi dan karakter secara menyeluruh. Melalui implementasi Kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran yang diterapkan di sekolah, pemerintah berharap peserta didik sebagai  generasi  muda  penerus  bangsa  dapat  mengembangkan  berbagai potensi diri secara optimal dan menjadi lulusan yang berkualitas yang nantinya dapat berkontribusi dalam pembangunan, adaptif  terhadap berbagai perubahan, mampu menjawab tantangan arus globalisasi, bersaing dan bersanding dengan Negara lain, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
C.      Hipotesis Peneliian
                        Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian adapun hipotesisnya adalah sebagai beikut:
1.           Hipotesis kerja atau hipotesa alternatif adanya pengaruh yang signifikan antara implementasi kurikulum 2013 terhadap  proses pembelajaran di SD 2 Ranomeeto
2.           Hipotesis nol atau hipotesis statistik Tidak ada pengaruh yang signifikan antara kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran di SD 2 Ranomeeto








BAB III
METODE PENELITIAN
A.           Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekaan penelitian dekskriptif(desscriptive research).
penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dilakukan dengan menyajikan sebuah data-data yang telah dikumpulkan secara apa adanya tanpa memberikan perlakuan-perlakuan tertentu terhadap objek penelitian. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan oleh penulis guna mengetahui gambaran secara sistematik mengenai proses pembelajaran yang dilaksanakan di SD Negeri  Ranomeeto yang mencakup beberapa komponen, antara lain: pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil belajar siswa, hambatan yang terjadi dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 serta usaha yang dilakukan oleh Bapak/Ibu guru dalam mengatasi hambatan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013.
B.         Lokasi dan Waktu Penelitian
1.      Lokasi Penelitian
Peneliti mengambil Lokasi di SD Negri 2 Ranomeeto karena di sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang baru saja menerapkan Kurikulum 2013 sehingga terdapat data yang diperlukan oleh peneliti yang memungkinkan untuk digunakan sebagai obyek penelitian.
2.      Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan setelah proposal penelitian ini disetujui oleh dosen pembimbing dan pihak yang berwenang.
C.         Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah guru mata pelajaran produktif dan siswa kelas I sampai kelas VI di SD 2 Ranomeeto, sedangkan pengambilan sampel secara acak kelas I sampai dengan kelas VI masing-masing satu kelas di SD 2 Ranomeeto.
D.         Tehknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah angket  atau  Kuesioner. Menurut  Suharsimi  Arikunto  (2010:194) kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden mengenai pribadinya atau hal-hal yang diketahui oleh responden tersebut. Sama  halnya  dengan  Sugiono  (2010: 199)  yang  mengemukakan bahwa kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada cara responden untuk dijawabnya.
Angket atau kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini termasuk ke dalam bentuk angket atau kuesioner berstruktur dengan jawaban tertutup dan angket atau kuesioner berstruktur dengan jawaban terbuka guna mengungkap bagaimana pengaruh implementasi Kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran di SD 2 Ranomeeto. Penggunaan kuesioner dengan bentuk tertutup dilakukan oleh peneliti dengan cara memberikan pernyataan atau pertanyaan kepada responden. Responden akan memilih salah satu jawaban terhadap pertanyaan atau pernyataan dengan cara memberi tanda check () pada jawaban yang tersedia. Sedangkan pada kuesioner dengan bentuk terbuka digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh dari kuesioner tertutup dengan memberikan beberapa pernyataan atau pertanyaan yang akan dikomentari dan dijawab oleh responden. Kuesioner  terbuka memberi kesempatan kepada responden  untuk  menjawab dengan kalimatnya sendiri (Suharsimi Arikunto, 2010: 195). Kuesioner terbuka memberi keleluasaan kepada responden untuk mengemukakan apa saja yang mereka pandang atau perlu dikemukakan.
E.     Tehknik Analisis Data

Teknik analisis data dimaksudkan untuk mencari jawaban atas pertanyaan penelitian tentang permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya. Data penelitian yang diperoleh, selanjutnya dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif.
Analisis  deskriptif  untuk  masing-masing  variabel  penelitian  digunakan untuk menentukan harga rata-rata (M), simpangan baku (SD), median (Me) dan modus (Mo). Data yang telah dikumpulkan kemudian diatur, diurutkan, dikelompokkan, dan dibuat kategori. Untuk menentukan   jumlah kelas interval digunakan  rumus  Sturges  1  +  33  log  n,  dimana  n  adalah  jumlah  subyek penelitian. Panjang kelas dihitung dengan cara membagi rentang data dengan jumlah kelas interval. Data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan melalui tabel distribusi frekuensi dan ditentukan kategorinya. Adapun cara yang digunakan dalam menentukan pengkategorian adalah dengan mengidentifikasi data pengelompokkan dengan menggunakan rumus berikut:
Tabel 1.1 Data Pengelompokkan Kecenderungan Skor Rata-rata
Rentang
Kategori
x > (Mi + 1,5SDi)
Sepenuhnya Terlaksana
x antara Mi s.d (Mi + 1,5SDi)
Sebagian Besar Terlaksana
x antara (Mi 1,5SDi) s.d < Mi
Sebagian Kecil Terlaksana
x < (Mi 1,5SDi)
Belum Terlaksana
Sumber: (Sutrisno Hadi, 2004: 126)
Penentuan  jarak 1,5 SD  untuk  kategori  ini  berdasarkan  pada  kurva distribusi normal yang secara teori berjarak 6 simpangan baku (6SDi). Untuk menghitung  besarnya  rerata  ideal  (Mi)  dan  simpangan  baku  ideal  (SDi) digunakan rumus sebagai berikut:
Mi  = ½ (nilai max + nilai min)
SDi = 1/6 (nilai max – nilai min)
Untuk menjelaskan sebaran data, maka dapat disajikan dalam bentuk diagram.  Diagram  dibuat  berdasarkan  data  frekuensi  yang telah  telah  ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif kuantitatif yaitu mendeskripskan dan memaknai tiap data yang telah di analisis.





DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: CV. Alfabeta.
E. Mulyasa. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT  Remaja Rosdakarya.
Anang Tjahjono. (2013). Petunjuk Teknis Persiapan Implementasi Kurikulum Tahun 2013 pada Minggu Pertama di Sekolah. Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sholeh Hidayat. (2013). Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.
Oemar Hamalik. (1999). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Hj. Chalijah Hasan. (1994). Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya: Al- Ikhlas.
Syaiful Sagala. (2007). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta. Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Syaiful Bahri Djamarah. (1994). Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya : Usaha Nasional.
Nana Sudjana. (1997). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya.
Mochtar Buchori. (1994). Belajar & Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta
Suharsimi Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: PT. Rineka









































































.



                                                                               








                                                                                                                                                                                                                               








































                                                                                                  









Komentar